Darurat! Ekonomi Mati, Air Minum & Pangan Nihil di Palu

PALU – Hari kembali gelap, sudah lewat lebih dari 48 jam pascagempa tsunami menerjang Kota Palu dan Donggala. Tapi listrik belum menyala hingga Ahad (30/9). Artinya, ketika matahari mulai turun, saat itu pula Kota Palu benar-benar gelap. Hanya cahaya lampu dari kendaraan yang remang di antara runtuhan. Puing rumah akibat gempa dan tsunami masih berserak, Kota Palu sebagai pusat dari pemerintahan Sulawesi Tengah masih lumpuh total.

Kekacauan terjadi ketika kebutuhan dasar seperti air minum, pangan, dan bahan bakar minyak (BBM) sangat sulit sekali didapat.

Logistik nihil, penjarahan toko marak

Kekacauan sumber pangan dan air minum yang nihil di seluruh Kota Palu, nampak jelas dari maraknya “penjarahan” minimarket di seantero Kota. Bahkan minimarket yang diambil barang-barangnya oleh warga ini terjadi di depan Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Wiranto.

Ahad (30/9) siang tadi, ketika Wiranto dan Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bersiap menggelar rapat di kantor Komando Rayon Militer Tadulako, tampak warga bergantian mengambil seluruh barang-barang yang bisa dikonsumsi. Warga membobol minimarket di dekat Korem Tadulako, terpaksa demi mendapat makanan dan minuman.

Peristiwa pembobolan minimarket lainnya juga terjadi di Bandara Mutiara Sis Aljufri, Sabtu (30/9) kemarin. Warga di sekitar bandara membobol sebuah minimarket di bandara untuk mengambil semua barang-barang yang bisa dimakan, seperti roti dan air minum.

kebutuhan logistik yang sangat mendesak untuk segera didistribusikan ke pengungsi di Palu, sebagai berikut:

  • Makanan siap saji
  • Air minum
  • Makanan bayi dan anak
  • Tenda, terpal, selimut
  • Tenaga medis
  • Obat-obatan
  • BBM
  • Water tank
  • Tenda pengungsi
  • Genset
  • Alat penerangan
  • Kantong mayat
  • Kain kafan
2019-06-10T00:11:30+00:00